KELANGKAAN MINYAK TANAH DI BANJARSARI
Ratusan Warga Banjarsari Antre Minyak Tanah
Selasa, 10 Maret 2009 , 19:08:00
CIAMIS,-Semakin langkanya minyak tanah menyusul adanya konversi ke gas menjadikan harga barang tersebut sulit ditemukan di pasaran dan kalaupun ada harganya sudah melambung. Di Kecamatan Banjarsari harga eceran minyak tanah mencapai Rp 4.000-Rp 4.500 per liter.
Bahkan untuk mendapatkan minyak tanah mereka juga harus antri hingga beberapa jam. Paling tidak, hari Selasa (10/3) ratusan warga yang antri diagen minyak tanah yang ada di kompleks pasar Banjarsari. terbatasnya pasokan dan pemerataan, pembelian juga dibatasi maksimal 10 liter dengan harga Rp 3.500,00 per liter. Antrian mulai terjadi sekitar pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.
“Biasanya sih tidak sampai ngatri begini panjang. Sudah menunggu lama, pembelian juga dibatasi hanya 10 liter. Sejak ada konversi minyak tanah ke gas, barang tersebut semakin langka. Kalau di warung harganya bisa mencapai Rp 4000,00 – Rp 4.500,00 per litar, ungkap salah seorang warga Banjarsari, OPON (46), Selasa (10/3)
ARGY mengungkapkan masih banyak tetangganya yang belum memakai kompor gas konversi. Hal itu disebabkan karena mereka masih merasa takut untuk mengoperasikan kompor gas. “Banyak yang sudah menerima kompor dan tabung gas, namun masih disimpan, takut memakainya. Karena takut, mereka tetap mempergunakan kompor minyak tanah,” tuturnya.
Sugiana/MANG EET salah seorang pemilik agen minyak tanah di komplek Pasar Banjarsari mengungkapkan sejak adanya konversi gas, jatah kiriman dari pertamina juga berkurang. Apabila sebelumnya dalam seminggu mendapat pasokan 8 kali, saat ini hanya dikirim 3 kali.
Terpisah anggota DPRD Ciamis, Asep Hendaryanto mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Pihaknya menilai keadaan itu disebabkan karena tidak adanya koordinasi antara pelaksanaan pembagian kompor gas dengan pencabutan pasokan minyak tanah. “Sebenarnya saya tidak setuju dengan perubahan itu, sebab nilai masyarakat yang dijadikan sebagai kelinci percobaan. Mestinya sebelum dilaksanakan, terlebih dahulu ada daerah perncontohan konversi minyak tanah, kalau hasilnya baik dan mendapat dukungan masyarakatnya, baru disebarluaskan. Janganlan rakyat dijadikan korban,” ujarnya.
-
Arsip
- Mei 2009 (2)
- Maret 2009 (4)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (1)
- November 2008 (1)
- Agustus 2008 (2)
- Juli 2008 (1)
- Juni 2008 (2)
- Mei 2008 (3)
- April 2008 (4)
- Maret 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS